SHOLLALLAHU ALA MUHAMMAD!

Kenalilah apa yang ada dalam pandanganmu! maka apa yang disembunyikan dirimu akan menjadi jelas. Sebab tak ada sesuatupun yang tersembunyi yang takkan terungkap.

Aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah radliyallahu'anhuma tentang madzhab Ahlus Sunnah dalam masalah ushuluddin (pokok–pokok agama) juga tentang pemahaman para ulama di berbagai kota yang mereka ketahui, serta apa saja yang mereka berdua yakini. Maka, keduanya berkata : Kami telah berjumpa dengan para ulama di seluruh kota baik di Hijaz, Iraq, Mesir, Syam maupun Yaman, maka diantara madzhab yang mereka anut adalah1: 1. Iman itu berupa perkataan dan perbuatan2, bertambah dan berkurang. 2. Al–Qur’an adalah kalam Allah dan bukan makhluk, dalam segala aspeknya. 3. Takdir yang baik maupun yang buruk adalah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala 4. Di kalangan ummat ini, sebaik–baik orang setelah Nabi adalah Abu Bakar Ash–Shiddiq, kemudian ‘Umar bin Al–Khattab, lalu ‘Utsman, lalu ‘Ali bin Abu Thalib radliyallahu'anhum. Mereka Khulafaur Rasyidun Al–Mahdiyun para khalifah yang berpegang teguh kepada agama dan mengikuti kebenaran. 5. Bahwa sepuluh sahabat yang disebut dan dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk jannah, mereka itu sesuai dengan pernyataan beliau7 dan perkataan beliau itu benar. 6. Memintakan kasih sayang8 bagi seluruh sahabat serta keluarga Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, serta menahan untuk membicarakan perselisihan yang terjadi diantara mereka. 7. Bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari seluruh makhluk-Nya, sebagaimana sifat yang diberitahukan-Nya dalam kitab-Nya melalui lisan Rasul-Nya, tanpa diketahui kaif (bagaimana)nya. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. 8. Allah Tabaraka wa Ta’ala akan dapat dilihat di akhirat. Segenap penduduk jannah akan melihat-Nya dengan mata kepala mereka. Allah berbicara, sebagaimana dia berkehendak. 9. Jannah (syurga) adalah benar dan naar (neraka) adalah benar (adanya). Keduanya adalah makhluk yang kekal abadi. Jannah adalah balasan bagi para wali-Nya, sedangkan neraka adalah hukuman bagi orang–orang yang bermaksiat kepada-Nya, kecuali yang mendapatkan rahmat-Nya. 10. Shirath adalah benar (adanya). 11. Mizan (timbangan) yang memiliki dua sisi timbangan untuk menimbang amalan para hamba, yang baik maupun yang buruk adalah benar (adanya). 12. Haudh (telaga) yang dijadikan sebagai penghormatan bagi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan segenap keluarganya, adalah benar (adanya). 13. Syafa’at adalah benar (adanya). Dan bahwa sebagian ahli tauhid keluar dari neraka lantaran adanya syafa’at, adalah benar . 14. Adzab kubur adalah benar (adanya). 15. Munkar dan Nakir adalah benar (adanya). 16. Malaikat mulia yang mencatat amal perbuatan menusia adalah benar (adanya)18. 17. Kebangkitan setelah mati adalah benar (adanya). 18. Para pelaku dosa besar berada dalam masyi’ah (kehendak) Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita tidak mengkafirkan ahli kiblah disebabkan dosa mereka. Kita menyerahkan urusan batin mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla. 19. Kita melaksanakan kewajiban jihad dan haji bersama imam–imam kaum muslimin, disetiap masa. 20. Kita tidak boleh melakukan pembelotan terhadap para imam atau peperangan di masa fitnah. 21. Kita mendengar dan menta’ati siapa saja yang dijadikan Allah sebagai pemimpin kita. Kita tidak akan melepaskan diri dari ketaatan. 22. Kita mengikuti sunnah dan jama’ah serta menghindari sikap menyimpang (nyleneh), perselisihan dan perpecahan. 23. Jihad berlaku semenjak Allah mengutus Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam hingga terjadinya hari kiamat, bersama imam–imam kaum muslimin, tanpa ada sesuatupun yang menghapuskannya. 24. Demikian pula haji. 25. Begitu pula pembayaran zakat saimah kepada imam kaum muslimin yang menjadi pemimpin bagi kita. 26. Pada aslinya manusia secara umum digolongkan mukmin berdasarkan hukum–hukum dan pewarisan, adapun hakekat keimanan mereka disisi Allah tidak diketahui. Barangsiapa yang berkata bahwa ia seorang mu’min sejati, maka ia adalah orang yang berbuat bid’ah. Barangsiapa yang berkata bahwa ia adalah orang yang mu’min disisi Allah, maka ia termasuk pendusta, sedangkan orang yang mengatakan, “Saya beriman kepada Allah” maka yang dilakukannya adalah benar. 27. Kaum Murji’ah adalah kaum yang berbuat bid’ah dan tersesat. 28. Kaum Qadariah adalah kaum yang berbuat bid’ah dan tersesat. Barangsiapa diantara mereka yang menyatakan bahwa Allah Ta’ala tidak mengetahui apa yang akan terjadi sebelum terjadinya, maka ia kafir. 29. Kaum Jahmiyah adalah kafir. 30. Kaum Rafidhah adalah kaum yang menolak Islam. 31. Kaum Khawarij adalah kaum yang meluncur keluar dari agama. 32. Barangsiapa menyatakan bahwa Al–Qur’an itu makhluk, maka ia orang yang kafir kepada Allah Yang Maha Agung, dengan kekafiran yang mengeluarkannya dari millah. Barangsiapa yang faham tetapi meragukan kekafirannya, maka ia kafir. 33. Barangsiapa yang ragu terhadap Kalam Allah Ta’ala (Al–Qur’an), bimbang mengenainya dan mengatakan, “Saya tidak tahu apakah makhluk atau bukan makhluk” maka ia orang yang berfaham jahmiyah. 34. Orang yang bimbang mengenai Al–Qur’an dikarenakan kebodohan, maka harus diajari dan dibid’ahkan, tetapi tidak dikafirkan. 35. Barangsiapa yang mengatakan “Bacaan Al–Qur’an-ku adalah makhluk” atau “Al–Qur’an dengan bacaanku adalah makhluk” maka ia adalah orang yang berpaham jahmiyah. Syaikh Abu Thalib berkata: Ibrahim bin ‘Umar berkata: Ali bin Abdul ‘Aziz berkata : Abu Muhammad berkata: Saya mendengar ayahku radliyallahu 'anhu berkata : 36. Tanda–tanda ahli bid’ah adalah mengumpat ahlul ‘atsar (orang – orang yang berpegang teguh dengan sunnah-pent). 37. Tanda–tanda orang zindiq adalah mereka menyebut ahlul ‘atsar sebagai orang hasywiyah, karena ingin menghapuskan sunnah. 38. Tanda–tanda kaum jahmiyah adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum musyabbihah. 39. Tanda–tanda kaum qadariyah adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum yang berpaham jabriyah. 40. Tanda–tanda kaum murji’ah adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum mukhalifah (yang suka mempertentangkan) atau nuqshaniyah (yang suka mengurangi. 41. Tanda–tanda kaum rafidhah adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum tsaniyah. 42. Dalam perkara ini telah tersesat banyak kelompok (dalam memahami ahlus sunnah), padahal ahlus sunnah hanya menyandang satu nama dan nama – nama ini semua tidak mungkin menyatu (ada) pada mereka. 43. Abu Muhammad bercerita kepada kami, katanya: Dan saya mendengar ayahku dan Abu Zur’ah mengisolasi orang yang memiliki pemahaman yang menyimpang dan melakukan bid’ah, menyalahkan pendapat mereka dengan keras, menolak penulisan buku–buku dengan pendapat tanpa berdasarkan atsar, melarang berteman dengan ahli kalam atau membaca buku–buku kaum mutakallimin, serta berkata “Penganut ilmu kalam tidak akan beruntung selamanya.” Telah saya sampaikan semuanya, dan segala puji bagi Allah Rabb semua alam, semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan para keluarganya. Akhir kitab I’tiqaduddin.

0 komentar:

Posting Komentar

JAM

About this blog