Taufiqul Hakim lahir di Jepara pada tanggal 14 juni 1975. Ia adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara putra pasangan Supar dan Hj. Aminah. Kedua orangtuanya hanya petani desa biasa. Dan profesi itu menurun kepada hampir semua putra-putrinya. Hingga kini, dari tujuh bersaudara, hanya Taufiqul Hakim yang berprofesi sebagai guru umat alias kiai. Karena keberhajaan keluarga kampung itu, saat Taufiq lahir, tidak ada yang menduga, bocah itu akan lahir menjadi ulama muda yang menghasilkan karya yang mendunia. Pendidikannya dimulai dari pendidikan TK, SD dan MTs di desanya. Kemudian dia melanjutkan pada jalur informal yaitu pesantren. Pilihannya jatuh pada Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah yang diasuh oelh KH. Sahal Mahfudz (Rais Aam PBNU). Selain itu ia juga menimba ilmu Madrasah Aliyah dan Diniyyah di lingkungan Perguruan Islam Matholiul Falah Kajen, Pati. Sebuah madrasah bergengsi di seantero pesisir utara Jawa Tengah, yang juga asuhan Mbah Sahal dan ulama kharismatik KH. Abdullah Salam, yang telah melahirkan banyak ualama berbobot. Melalui sistem pendidikan ketat, terutama di bidang ilmu alat dikedua almamaternya itulah Taufiqul Hakim memperoleh bekal ilmu agama yang terbilang cukup. Tak hanya ilmu alat dan ilmu agama, Perguruan Mathaliul Falah juga terkenal dalam hal memperkenalkan dan mengakrabkan santri-santrinya dengan tradisi tulis-menulis. Tradisi tersebut secara tak langsung juga membuat santri terbiasa dengan pola berpikir yang sistematis dan terkonsep. Tak mengherankan jika kelak kemudian banyak alumninya yang menghasilkan karya-karya tulis berbobot, bahkan sebagian menggeluti sebagai penulis muda NU yang produktif. Tradisi dan budaya positif itulah yang belakangan memberi modal yang lebih dari cukup bagi Taufiqul Hakim untuk menghasilkan Amtsilaty, dan karya-karya lain yang jumlahnya sudah lumayan banyak. Karya-karyanya Meski disibukkan dengan aktifitas mengajar dan mengisi pelatihan di berbagai kota, Taufiqul Hakim masih tetap produktif menulis. Saat ini, dia telah menulis 30-an buku selain Amtsilaty seperti: Aqidaty, Syariaty, Mukhatrul Ahadits (7 jilid), Muhadatsah, kamus at Taufik, Fiqh Muamalah 1-2, fiqh Jinayah, Fiqh Thaharah, Fiqh Munakahat, fiqh Ubudiyyah, dan Tafsir al Mubarok. Saat ini Taufiqul Hakim juga tengah mengujicobakan metode praktis belajar fiqh dan balaghah. Selain itu ia juga sedang menyiapkan penyusunan buku metode efektif penyelenggaraan majlis ta’lim. Demikianlah, dengan gagasan brilian dan usianya yang relative muda, masih akan panjang menghiasi khazanah keilmuwan pesantren nusantara. Berawal Dari Kegelisahan Meski semua santri diwajibkan mengahafal kitab Alfiyyah, tidak semuanya mengerti kegunaan seribu bait syair kitab itu dalam membaca kitab kuning, termasuk diantaranya Taufiqul Hakim. Tak menyerah dengan keadaan, ia mengutak-atik syair-syair Alfiyyah. Hasilnya sebuah kesimpulan dari ribuan nadham hanya 150 bait yang menjadi pokok pelajaran nahwu. Penemuan Metode Membaca Kitab ‘Amstilaty’ Dari situ ia melihat muridnya kesulitan menghafal seribu bait Alfiyyah, yaitu syair arab yang mengandung hukum dan aturan dalam ilmu nahwu (tata bahasa) untuk bias membaca Arab gundul. Taufiqul Hakim berfikir untuk mencari bait-bait yang terpenting saja. Ia memilih 150 bait saja. Seratus lima puluh bait itu menjadi cikal bakal metode cepat membaca huruf arab tanpa harakat atau tanda baca. Melalui pengujian selama enam tahun, ia akhirnya menemukan rumus ajaib itu pada ramadhan 2001. Dinamainya Amtsilaty, yang berarti contoh-contohku. Metode baru itu ia uji cobakan pada empat rekannya, berhasil. Tapi, ketika diajarkan pada murid lain yang masih muda, tak sukses. Ia kemudian mencari terobosan dengan memberikan banyak contoh dan disampaikan dengan lagu. Murid pun betah belajar. Dalam enam bulan mereka bisa membaca Arab gundul. Padahal, dengan metode lama, butuh 6-9 tahun. Yang menarik, murid yang sudah menyelesaikan buku pertama bisa mengajar siswa baru. Begitu seterusnya, sehingga proses belajar bias lebih cepat. Untuk lebih memperkenalkan metode ini, Taufiqul Hakim mengantar muridnya yang lulus ke rumah orang tuanya. Sang murid mempraktekkannya di depan orang tua. Dari sini, metode itu menyebar dikawasan Bangsri. Tapi Taufiqul Hakim tak digubris ketika memperkenalkan metodenya di Jepara. Peluncuran buku temuannya pada 2002 sepi pengunjung. Tak putus asa, ia membawanya ke Mojokerto dan sukses. Metodenya menjadi pilihan di pesantren pesantren tradisional. Sejak itu, metode Amtsilaty menyebar dengan cepat. Edisi awal buku itu hanya berupa foto kopi. Kemudian karena banyak permintaan, diperbanyak dengan mesin percetakaan yang besar yang sanggup mencetak 2000 eksemplar setiap hari. * Mulyadi, Alumni PP. Nurul Ummah Prenggan Kotagede Jogjakarta
Aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah radliyallahu'anhuma tentang madzhab Ahlus Sunnah dalam masalah ushuluddin (pokok–pokok agama) juga tentang pemahaman para ulama di berbagai kota yang mereka ketahui, serta apa saja yang mereka berdua yakini. Maka, keduanya berkata : Kami telah berjumpa dengan para ulama di seluruh kota baik di Hijaz, Iraq, Mesir, Syam maupun Yaman, maka diantara madzhab yang mereka anut adalah1: 1. Iman itu berupa perkataan dan perbuatan2, bertambah dan berkurang. 2. Al–Qur’an adalah kalam Allah dan bukan makhluk, dalam segala aspeknya. 3. Takdir yang baik maupun yang buruk adalah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala 4. Di kalangan ummat ini, sebaik–baik orang setelah Nabi adalah Abu Bakar Ash–Shiddiq, kemudian ‘Umar bin Al–Khattab, lalu ‘Utsman, lalu ‘Ali bin Abu Thalib radliyallahu'anhum. Mereka Khulafaur Rasyidun Al–Mahdiyun para khalifah yang berpegang teguh kepada agama dan mengikuti kebenaran. 5. Bahwa sepuluh sahabat yang disebut dan dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk jannah, mereka itu sesuai dengan pernyataan beliau7 dan perkataan beliau itu benar. 6. Memintakan kasih sayang8 bagi seluruh sahabat serta keluarga Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, serta menahan untuk membicarakan perselisihan yang terjadi diantara mereka. 7. Bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari seluruh makhluk-Nya, sebagaimana sifat yang diberitahukan-Nya dalam kitab-Nya melalui lisan Rasul-Nya, tanpa diketahui kaif (bagaimana)nya. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. 8. Allah Tabaraka wa Ta’ala akan dapat dilihat di akhirat. Segenap penduduk jannah akan melihat-Nya dengan mata kepala mereka. Allah berbicara, sebagaimana dia berkehendak. 9. Jannah (syurga) adalah benar dan naar (neraka) adalah benar (adanya). Keduanya adalah makhluk yang kekal abadi. Jannah adalah balasan bagi para wali-Nya, sedangkan neraka adalah hukuman bagi orang–orang yang bermaksiat kepada-Nya, kecuali yang mendapatkan rahmat-Nya. 10. Shirath adalah benar (adanya). 11. Mizan (timbangan) yang memiliki dua sisi timbangan untuk menimbang amalan para hamba, yang baik maupun yang buruk adalah benar (adanya). 12. Haudh (telaga) yang dijadikan sebagai penghormatan bagi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan segenap keluarganya, adalah benar (adanya). 13. Syafa’at adalah benar (adanya). Dan bahwa sebagian ahli tauhid keluar dari neraka lantaran adanya syafa’at, adalah benar . 14. Adzab kubur adalah benar (adanya). 15. Munkar dan Nakir adalah benar (adanya). 16. Malaikat mulia yang mencatat amal perbuatan menusia adalah benar (adanya)18. 17. Kebangkitan setelah mati adalah benar (adanya). 18. Para pelaku dosa besar berada dalam masyi’ah (kehendak) Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita tidak mengkafirkan ahli kiblah disebabkan dosa mereka. Kita menyerahkan urusan batin mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla. 19. Kita melaksanakan kewajiban jihad dan haji bersama imam–imam kaum muslimin, disetiap masa. 20. Kita tidak boleh melakukan pembelotan terhadap para imam atau peperangan di masa fitnah. 21. Kita mendengar dan menta’ati siapa saja yang dijadikan Allah sebagai pemimpin kita. Kita tidak akan melepaskan diri dari ketaatan. 22. Kita mengikuti sunnah dan jama’ah serta menghindari sikap menyimpang (nyleneh), perselisihan dan perpecahan. 23. Jihad berlaku semenjak Allah mengutus Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam hingga terjadinya hari kiamat, bersama imam–imam kaum muslimin, tanpa ada sesuatupun yang menghapuskannya. 24. Demikian pula haji. 25. Begitu pula pembayaran zakat saimah kepada imam kaum muslimin yang menjadi pemimpin bagi kita. 26. Pada aslinya manusia secara umum digolongkan mukmin berdasarkan hukum–hukum dan pewarisan, adapun hakekat keimanan mereka disisi Allah tidak diketahui. Barangsiapa yang berkata bahwa ia seorang mu’min sejati, maka ia adalah orang yang berbuat bid’ah. Barangsiapa yang berkata bahwa ia adalah orang yang mu’min disisi Allah, maka ia termasuk pendusta, sedangkan orang yang mengatakan, “Saya beriman kepada Allah” maka yang dilakukannya adalah benar. 27. Kaum Murji’ah adalah kaum yang berbuat bid’ah dan tersesat. 28. Kaum Qadariah adalah kaum yang berbuat bid’ah dan tersesat. Barangsiapa diantara mereka yang menyatakan bahwa Allah Ta’ala tidak mengetahui apa yang akan terjadi sebelum terjadinya, maka ia kafir. 29. Kaum Jahmiyah adalah kafir. 30. Kaum Rafidhah adalah kaum yang menolak Islam. 31. Kaum Khawarij adalah kaum yang meluncur keluar dari agama. 32. Barangsiapa menyatakan bahwa Al–Qur’an itu makhluk, maka ia orang yang kafir kepada Allah Yang Maha Agung, dengan kekafiran yang mengeluarkannya dari millah. Barangsiapa yang faham tetapi meragukan kekafirannya, maka ia kafir. 33. Barangsiapa yang ragu terhadap Kalam Allah Ta’ala (Al–Qur’an), bimbang mengenainya dan mengatakan, “Saya tidak tahu apakah makhluk atau bukan makhluk” maka ia orang yang berfaham jahmiyah. 34. Orang yang bimbang mengenai Al–Qur’an dikarenakan kebodohan, maka harus diajari dan dibid’ahkan, tetapi tidak dikafirkan. 35. Barangsiapa yang mengatakan “Bacaan Al–Qur’an-ku adalah makhluk” atau “Al–Qur’an dengan bacaanku adalah makhluk” maka ia adalah orang yang berpaham jahmiyah. Syaikh Abu Thalib berkata: Ibrahim bin ‘Umar berkata: Ali bin Abdul ‘Aziz berkata : Abu Muhammad berkata: Saya mendengar ayahku radliyallahu 'anhu berkata : 36. Tanda–tanda ahli bid’ah adalah mengumpat ahlul ‘atsar (orang – orang yang berpegang teguh dengan sunnah-pent). 37. Tanda–tanda orang zindiq adalah mereka menyebut ahlul ‘atsar sebagai orang hasywiyah, karena ingin menghapuskan sunnah. 38. Tanda–tanda kaum jahmiyah adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum musyabbihah. 39. Tanda–tanda kaum qadariyah adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum yang berpaham jabriyah. 40. Tanda–tanda kaum murji’ah adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum mukhalifah (yang suka mempertentangkan) atau nuqshaniyah (yang suka mengurangi. 41. Tanda–tanda kaum rafidhah adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum tsaniyah. 42. Dalam perkara ini telah tersesat banyak kelompok (dalam memahami ahlus sunnah), padahal ahlus sunnah hanya menyandang satu nama dan nama – nama ini semua tidak mungkin menyatu (ada) pada mereka. 43. Abu Muhammad bercerita kepada kami, katanya: Dan saya mendengar ayahku dan Abu Zur’ah mengisolasi orang yang memiliki pemahaman yang menyimpang dan melakukan bid’ah, menyalahkan pendapat mereka dengan keras, menolak penulisan buku–buku dengan pendapat tanpa berdasarkan atsar, melarang berteman dengan ahli kalam atau membaca buku–buku kaum mutakallimin, serta berkata “Penganut ilmu kalam tidak akan beruntung selamanya.” Telah saya sampaikan semuanya, dan segala puji bagi Allah Rabb semua alam, semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan para keluarganya. Akhir kitab I’tiqaduddin.
Dari Umar bin Alkhaththab r.a., katanya: "Pada suatu ketika kita semua duduk di sisi Rasulullah s.a.vv. yakni pada suatu hari, tiba-tiba muncullah di muka kita seorang lelaki yang sangat putih pakaiannya dan sangat hitam warna rambutnya, tidak timpak padanya bekas bepergian dan tidak seorangpun dari kita semua yang mengenalnya, sehingga duduklah orang tadi di hadapan Nabi s.a.w. lalu menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya sendiri dan berkata: "Ya Muhammad, beritahukanlah padaku tentang Islam." Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Islam, yaitu hendaknya engkau menyaksikan bahwa tiada piihan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, hendaklah pula engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa bulan Ramadhan dan melakukan haji ke Baitullah jikalau engkau kuasa jalannya ke situ." Orang itu berkata: "Tuan benar." Kita semua heran padanya, karena ia bertanya dan juga membenarkannya. Ia berkata lagi: "Kemudian beritahukanlah padaku tentang Iman." Rasulullah s.a.w. bersabda: "Yaitu hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitabkitabNya, rasul-rasulNya, hari penghabisan - kiamat - dan hendaklah engkau beriman pula kepada takdir, yang baik ataupun yang buruk - semuanya dari Allah jua." Orang itu berkata: "Tuan benar." Kemudian katanya lagi: Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih 67 "Kemudian beritahukanlah padaku tentang Ihsan." Rasulullah s.a.w. menjawab: "Yaitu hendaklah engkau menyembah kepada Allah seolah-olah engkau dapat melihatNya, tetapi jikalau tidak dapat seolah-olah melihatNya, maka sesungguhnya Allah itu dapat melihatmu." Ia berkata: "Tuan benar." Katanya lagi: "Kemudian beritahukanlah padaku tentang hari kiamat." Rasulullah s.a.w. menjawab: "Orang yang ditanya - yakni beliau s.a.w. sendiri - tentulah tidak lebih tahu dari orang yang menanyakannya - yakni orang yang datang tibatiba tadi. Orang itu berkata pula: "Selanjutnya beritahukanlah padaku tentang alamat-alamatnya hari kiamat itu." Rasulullah s.a.w. menjawab: "Yaitu apabila seorang hamba sahaya wanita melahirkan tuan puterinya - maksudnya hamba sahaya itu dikawin oleh pemiliknya sendiri yang merdeka, lalu melahirkan seorang anak perempuan. Anaknya ini dianggap merdeka juga dan dengan begitu dapat dikatakan hamba sahaya perempuan melahirkan tuan puterinya - dan apabila engkau melihat orangorang yang tidak beralas kaki, telanjang-telanjang, miskin-miskin dan sebagai penggembala kambing sama bermegah-megahan dalam gedung-gedung yang besar - karena sudah menjadi kaya-raya dan bahkan menjabat sebagai pembesar-pembesar negara." Selanjutnya orang itu berangkat pergi. Saya - yakni Umar r.a. - berdiam diri beberapa saat lamanya, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Hai Umar, adakah engkau mengetahui siapakah orang yang bertanya tadi?" Saya menjawab: "Allah dan RasulNyalah yang lebih mengetahuinya." Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Sesungguhnya orang tadi adalah malaikat Jibril, ia datang untuk memberikan pelajaran tentang agama kepadamu semua." (Riwayat Muslim) Makna Talidulamatu rabbatahaa, yakni tuan puterinya. Adapun pengertiannya ialah oleh sebab banyaknya hamba sahaya perempuan sehingga budak-budak tersebut melahirkan puteri untuk tuan yang memilikinya. Puteri tuannya itu sama kedudukannya dengan tuannya sendiri. Tetapi ada sebagian ulama yang mengatakan tidak sedemikian itu maksudnya. Al-'Aalah, ialah golongan orang-orang fakir. Adapun kata Maliyyan artinya waktu yang lama, yaitu sampai tiga hari tiga malam lamanya. Sebabnya Sayidina Umar terheran-heran karena orang yang bertanya itu semestinya belum mengerti apa yang ditanyakan, tetapi anehnya setelah diberi jawaban, tiba-tiba penanya itu berkata: "Tuan benar," dan kata-kata sedemikian ini tentulah menunjukkan bahwa penanya itu telah mengerti. Barulah keheranan Sayidina Umar itu lenyap setelah diberitahu bahwa yang bertanya tadi sebenarnya adalah Jibril a.s. yang kedatangannya memang sengaja hendak mengajarkan soal-soal keagamaan kepada para sahabat Rasulullah s.a.w. Dalam Hadis di atas, ada beberapa hal yang penting kita ketahui, yaitu: (a) Mendirikan shalat artinya tidak semata-mata menjalankan shalat saja, tetapi harus dipenuhi pula syarat-syarat serta rukun-rukunnya dan ditepatkan selalu menurut waktuwaktunya. (b) Percaya kepada Allah yakni meyakinkan bahwa Allah itu ada (jadi jangan beranggapan bahwa Allah itu tidak ada seperti faham komunis), dan lagi Allah itu bersifat Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih 68 dengan semua sifat kemuliaan, keagungan dan kesempurnaan serta terjauh dari semua sifat kekurangan, kehinaan dan kerendahan. (c) Malak ialah makhluk Allah yang dibuat daripada nur (cahaya) dan tidak berjejaljejal seperti cahaya lampu yang memenuhi rumah. Dengan cahaya seribu lampu, belum juga sesak rumah itu. Dengan ini teranglah apa yang dimaksud dalam sebuah Hadis: Artinya: "Bahwasanya Allah itu mempunyai malaikat, ada yang memenuhi sepertiga alam, ada yang memenuhi dua pertiga alam dan ada yang memenuhi alam seluruhnya." Adapun arti iman kepada malaikat ialah harus percaya bahwa mereka itu benar-benar ada dan bahwa mereka itu adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan. Malak itu sebenarnya kata mufrad dan jamaknya berbunyi malaikat. (d) Percaya kepada kitab-kitab Allah ialah meyakinkan betul-betul bahwa kitab-kitab suci itu adalah firman Allah yang sebenar-benarnya yang diturunkan pada Rasul-rasulNya dengan jalan wahyu dan meyakinkan pula bahwa isi yang terkandung di dalamnya ttu semua benar. (e) Percaya kepada para Rasul artinya beri'tikad seteguh-teguhnya bahwa apa yang mereka bawa itu memang sebenarnya dari Allah Ta'ala. (f) Hari Akhir ialah hari Kiamat. Iman dengan hari kiamat artinya mempercayai betulbetul akan terjadinya hari penghabisan itu dan apa saja yang terjadi sesudahnya, misalnya Hasyar (akan dikumpulkannya semua makhluk di padang mahsyar), Hisab (semua amal akan diperhitungkan), Mizan (amal-amal akan ditimbang dalam neraca), menyeberangi jembatan yang disebut Shirath dan kemudian ada yang masuk Jannah (syurga), ada pula yang terus terjun ke (neraka) dan lain-lain hal lagi. (g) Qadar ialah ketentuan dari Allah sebelum Allah membuat semua makhluk ini, yang baik maupun yang jahat. Jadi segala macam adalah dengan kehendak Allah yang telah dipastikan sejak zaman azali dulu yaitu zaman sebelum Allah membuat apa-apa. Tetapi kita jangan lupa berikhtiar, karena kita telah diberi akal oleh Allah untuk mengusahakan bagaimana jalannya agar kita tetap bernasib baik dan terjauh dari nasib buruk. Kita tetap harus berdaya upaya selama hayat dikandung badan. (h) Dengan cara ibadat sebagaimana yang terkandung dalam arti kata Ihsan ini, maka tentu akan khusyuklah kita sewaktu menyembah Allah itu. Kalau dapat seolah-olah tahu pada Allah, ini namanya Mukasyafah (terbuka dari semua tabir yang menutup) dan kalau mengangan-angankan bahwa Allah tetap melihat kita, ini namanya Muraqabah (mengintaiintainya Allah pada kita). (i) Tanda-tanda yang dimaksud ini ialah tanda-tanda kecil sebab datangnya hari kiamat itu ada tanda-tandanya yang kecil dan ada tanda-tandanya yang besar. Tanda-tanda kecil artinya datangnya itu masih agak jauh, tetapi bila tanda-tanda besar telah nampak, maka itulah yang menunjukkan bahwa hari kiamat telah sangat dekat sekali saat terjadinya. (j) Hamba sahaya perempuan meiahirkan tuannya - artinya, banyak sahaya perempuan itu yang dikawin oleh raja-raja atau pejabat-pejabat tinggi lalu meiahirkan anakanak perempuan sehingga anak-anaknya itu pun akan berkedudukan sebagaimana ayahnya. (k) Orang yang tak beralas kaki, telanjang, miskin serta penggembala kambing sama bermegah-megah dalam gedung-gedung besar, maksudnya ialah bahwa yang asalnya hanya penggembala yang miskin hingga seolah-olah tak pernah beralas kaki dan pakaiannya hampir-hampir tidak ada (boleh dikata telanjang) tiba-tiba menjadi pembesar-pembesar negeri dan mendiami gedung-gedung besar lagi indah dan sama berkuasa serta kaya raya. Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih 69 Dengan demikian, keadaan negeri lalu rusak binasa sebab sesuatu perkara semacam pemerintahan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, sebagaimana dalam sebuah Hadis diterangkan: Artinya: "Apabita sesuatu perkara itu diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kerusakannya." Dengan initahulah kita bahwa Islam itu mengandung tiga unsur yang utama yakni: A. 5 Arkanul Islam, B. 6 Arkanul lman dan C. 2 Arkanul Ihsan.
Dalam sebuah hadis menerangkan bahwa Rasulullah S.A.W telah bersabda : “Barangsiapa yang mengabaikan solat secara berjemaah maka Allah S.W.T akan mengenakan 12 tindakan yang merbahaya ke atasnya. Tiga darinya akan dirasainya semasa di dunia ini antaranya :- · Allah S.W.T akan menghilangkan berkat dari usahanya dan begitu juga terhadap rezekinya. · Allah S.W.T mencabut nur orang-orang mukmin daripadanya. · Dia akan dibenci oleh orang-orang yang beriman. Tiga macam bahaya adalah ketika dia hendak mati, antaranya : · Ruh dicabut ketika dia di dalam keadaan yang sangat haus walaupun ia telah meminum seluruh air laut. · Dia akan merasa yang amat pedih ketika ruh dicabut keluar. · Dia akan dirisaukan akan hilang imannya. Tiga macam bahaya yang akan dihadapinya ketika berada di dalam kubur, antaranya :- · Dia akan merasa susah terhadap pertanyaan malaikat mungkar dan nakir yang sangat menggerunkan. · Kuburnya akan menjadi cukup gelap. · Kuburnya akan menghimpit sehingga semua tulang rusuknya berkumpul (seperti jari bertemu jari). Tiga lagi azab nanti di hari kiamat, antaranya : · Hisab ke atsanya menjadi sangat berat. · Allah S.W.T sangat murka kepadanya. · Allah S.W.T akan menyiksanya dengan api neraka.
Rasulullah S.A.W. telah bersabda yang bermaksud : “Sesiapa yang memelihara solat, maka solat itu sebagai cahaya baginya, petunjuk dan jalan selamat dan barangsiapa yang tidak memelihara solat, maka sesungguhnya solat itu tidak menjadi cahaya, dan tidak juga menjadi petunjuk dan jalan selamat baginya.” (Tabyinul Mahaarim) Rasulullah S.A.W telah bersabda bahwa : “10 orang solatnya tidak diterima oleh Allah S.W.T, antaranya : 1. Orang lelaki yang solat sendirian tanpa membaca sesuatu. 2. Orang lelaki yang mengerjakan solat tetapi tidak mengeluarkan zakat. 3. Orang lelaki yang menjadi imam, padahal orang yang menjadi makmum membencinya. 4. Orang lelaki yang melarikan diri. 5. Orang lelaki yang minum arak tanpa mahu meninggalkannya (Taubat). 6. Orang perempuan yang suaminya marah kepadanya. 7. Orang perempuan yang mengerjakan solat tanpa memakai tudung. 8. Imam atau pemimpin yang sombong dan zalim menganiaya. 9. Orang-orang yang suka makan riba’. 10. Orang yang solatnya tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan yang keji dan mungkar.” Sabda Rasulullah S.A.W yang bermaksud : “Barang siapa yang solatnya itu tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan keji dan mungkar, maka sesungguhnya solatnya itu hanya menambahkan kemurkaan Allah S.W.T dan jauh dari Allah.” Hassan r.a berkata : “Kalau solat kamu itu tidak dapat menahan kamu dari melakukan perbuatan mungkar dan keji, maka sesungguhnya kamu dianggap orang yang tidak mengerjakan solat. Dan pada hari kiamat nanti solatmu itu akan dilemparkan semula ke arah mukamu seperti satu bungkusan kain tebal yang buruk.”